salju

Senin, 11 Mei 2009

pernikahan dan komitmen

Pernikahan, Cinta dan Komitmen

“Pernikahan itu dilandaskan pada sebuah apa?” pertanyaan itu aku lontarkan pada sebuah suara manis di ujung telpon sana. “Komitmen,” jawabnya. “Sebuah komitmen langgeng karena apa?” pertanyaan lanjutan coba aku lontarkan. Suara di ujung telpon itu terdiam. “Saling pengertian dan saling memahami?” aku mencoba menjawab dengan sebuah pertanyaan tertutup. “Iya,” suara di seberang itu mengiyakan.

Itulah realitas, cinta bisa datang dan pergi. Perasaan bisa berubah setiap saat. Namun tidak dengan komitmen (untuk terus mencoba saling mengerti dan saling memahami). Pernikahan adalah sebuah kontrak kesepakatan. Sebuah kontrak kesepakatan antara dua manusia.

“Tapi bukankah kita harus jujur dengan perasaan kita? Bukankah itu yang pernah kamu katakan padaku dulu?” Suara di seberang itu mencoba membela dirinya. “Iya. Tapi bersikap jujur pada perasaan bukan berarti dengan cara bersikap membabi buta dan mengambil keputusan bodoh bahkan tidak rasional bukan?” jawabku.

Benar, memang kita harus bersikap jujur dengan perasaan kita. Salah satunya dengan cara memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk mengaktualisasikan apa yang kita rasakan.

Memang cinta dan komitmen adalah hal yang berbeda. Namun keduanya akan mempunyai persinggungan (bahkan beririsan) apabila kita membicarakan keduanya dalam konteks pernikahan.

Aku percaya, bahwa pernikahan para orang tua jaman baheula dulu itu bisa awet karena diantara pihak mempunyai energi dan kesadaran bahwa saling pengertian dan saling memahami itu lebih penting dan berharga ketimbang cinta. Bahkan cinta bisa muncul dari saling pengertian dan saling memahami.

Perempuan di ujung telpon sana itu terdiam. “Jujur, aku sekarang lebih memilih mencari perempuan yang bisa mengerti dan memahami aku. Perempuan yang bisa menerima aku apa adanya. Daripada aku terus mengejar-ngejar perempuan yang aku cintai, namun tak kunjung (mau dan) mampu mengerti dan memahami aku,” sebuah kata penutup ku ucapkan yang sempat membuat perempuan itu terhenyak sejenak.

Memang tidak mudah untuk bersikap rasional dengan perasaan kita. Namun bukan berarti itu tak mungkin untuk dilakukan.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

 
Copyright© Fe_Na ForEver